SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM--------- [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu/[Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu
AWAL OPINI RESENSI CERPEN DIARY MAKNA TAMPLATE
28 Desember 2007
Aliran Sesat Selilit Agama

Baru-baru ini muncul aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang menganut keyakinan bahwa telah datang utusan Tuhan (rasulullah) yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang. Pelantikan rasul ini terjadi pada 23 Juli 2006 di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Menurut aliran ini, tidak ada sholat lima waktu, tetapi sholat hanya dikerjakan pada waktu malam saja. Aliran ini juga mencampuradukkan ajaran trinitas ke dalam Islam dan meniadakan rukun Islam. Bahkan yang cukup menggelikan, aliran ini ternyata juga memungut uang kepada para anggotanya sebagai syarat untuk masuk surga.

Oleh Robby H. Abror


Judul: Selilit Sang Nabi. Bisik-bisik tentang Aliran Sesat
Penulis: Eddy Kristiyanto, OFM
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: I, 2007
Tebal: 178 halaman

Munculnya berbagai aliran sesat dalam tubuh agama dapat dianggap sebagai selilit yang sangat mengganggu. Kelahiran sejumlah aliran, ajaran, dan paham yang diberi stigma oleh lembaga agama sebagai sesat, menyimpang, membahayakan iman dan agama, sebenarnya terdapat dalam setiap sejarah agama manapun.

Baru-baru ini muncul aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang menganut keyakinan bahwa telah datang utusan Tuhan (rasulullah) yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang. Pelantikan rasul ini terjadi pada 23 Juli 2006 di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Menurut aliran ini, tidak ada sholat lima waktu, tetapi sholat hanya dikerjakan pada waktu malam saja. Aliran ini juga mencampuradukkan ajaran trinitas ke dalam Islam dan meniadakan rukun Islam. Bahkan yang cukup menggelikan, aliran ini ternyata juga memungut uang kepada para anggotanya sebagai syarat untuk masuk surga.

Karena dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY misalnya, telah menjatuhkan fatwa atas aliran ini sebagai sesat dan menyesatkan. MUI menganggap orang yang mengikuti aliran ini telah keluar dari agama Islam (murtad). Maka bagi mereka yang sudah telanjur mengikuti disarankan agar segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar (al-ruju/ ila al-haq).

Setelah mendapatkan penolakan dari umat Islam di Indonesia, akhirnya Abussalam alias Ahmad Moshaddeq, pimpinan aliran sesat ini menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2007. Dari hasil pemeriksaan, ternyata dia adalah mantan pelatih bulu tangkis dan pensiunan PNS pegawai Dinas Olahraga Pemprov DKI. Meski begitu, alirannya telah memiliki 41.000 pengikut tersebar di sembilan daerah di Indonesia.

Menggerogoti

Selain menggerogoti batang tubuh ajaran agama Islam, aliran sesat juga dialami oleh hampir semua agama resmi. Katolik juga memiliki apa yang disebut ”bida’ah”. Lembaga Gereja (Kristen) Katolik telah memberikan stigma pada sejumlah aliran keagamaan yang berseberangan atau tidak sejalan bahkan bertentangan dengan ajarannya yang resmi. Kepedulian lembaga Gereja adalah menjaga kemurnian ajaran (orthodoxi) dan praksis (orthopraxi).

Pertama, mengenai ajaran (orthodoxi), lembaga Gereja mengaku telah menerimanya dari Yesus Kristus, Putra Allah Bapa yang dalam persekutuan dengan Roh Kudus telah mengilhami orang-orang tertentu untuk bersekutu dalam paguyuban beriman yang dinamis. Lembaga ini membenarkan diri telah menerima otoritas Ilahi dalam wujud insani, supaya dengannya kemurnian tetap terjaga.

Kedua, tentang praksis (orthopraxi) lembaga, apalagi hierarki, ’gembala’ berkepentingan khusus, yakni membimbing, mengarahkan agar praksis hidup para anggota lembaga Gereja sejalan dengan ajaran yang diyakininya. Kedua unsur tersebut (ajaran dan praksis) dilestarikan dalam dan oleh tradisi (hlm.18).

Lembaga Gereja menafsirkan aliran-aliran dalam Gereja yang merongrong dan memalsukan isi iman kepercayaan Kristen adalah para bida’ah. Mereka inilah yang dicap sebagai para pengajar sesat, karena menyimpang dan bertentangan dengan ajaran yang baku dan resmi. Bida’ah memiliki konsep sendiri tentang jalan keselamatan, sehingga mayoritas beranggapan bida’ah merupakan deviasi (gejala penyimpangan) dari arus umum. Dengan kata lain, pada galibnya bida’ah merupakan kelompok minoritas yang sedikit banyak militan dan radikal.
Buku ini mencoba mengangkat sisi-dalam ajaran atau aliran yang dicap oleh lembaga gereja sebagai bida’ah. Ajaran dan praksis adalah dua aspek utama yang dibahas oleh penulis. Secara biblis aliran-aliran keagamaan yang pernah dicap ”heretik” dikategorikan sebagai kelompok sektarian. Keberadaan bida’ah telah mendorong gereja untuk merumuskan ajarannya dengan tegas, karena para pemimpin Gereja bertanggung jawab atas ”keselamatan” jemaat yang mereka layani.

Dalam kekristenan, bida’ah (heresi) berasal dari akar kata hairesis yang berarti pilihan, dan kemudian sekte atau pilihan faksional. Selanjutnya, bida’ah berarti menyangkal atau meragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani. Intinya, bida’ah meninggalkan dan mengambil posisi berseberangan dengan ortodoksi (kepercayaan yang benar) dalam Kristen (1Kor 11:19, Gal 5:20, 2Pet 2:1). Pada faktanya, bida’ah menjadi suatu gerakan sentrifugal yang memecah-belah Gereja.

Bid’ah

Buku ini memetakan puluhan kelompok bida’ah yang diklasifikasikan penulisnya ke dalam enam gugus, yaitu: dualistis, trinitaris kristologis, spiritual, eskatologis, moral dan politis religius. Dalam gugus dualistis (berkelamin ganda; mengakui Tuhan tetapi juga memberontak kepada-Nya) misalnya, terdapat aliran gnostisisme (gnosis dari bahasa Yunani berarti pengetahuan). Aliran sesat ini mempraktikkan ritus-magis seperti upacara-upacara khusus ”keagamaan gnosis”, jimat, gugon tuhon menjadi pengganti tatanan dan nilai-nilai moral.

Dalam gugus politis religius juga terdapat aliran sesat galikanisme. Aliran ini merupakan gerakan yang menuntut kebebasan tanpa keterikatan pada Sri Paus berkenaan dengan tradisi hidup menggereja, yang sudah lama menjadi darah daging Prancis sejak lama. Aliran ini lahir karena kecenderungan politis, yaitu sikap condong menerima campur tangan kekuasaan sipil dalam masalah-masalah keagamaan.

Dalam menyikapi aliran sesat atau bida’ah ini, penulis buku ini mengingatkan pentingnya sikap arif terhadap pandangan-pandangan atau ajaran-ajaran sesat yang berseberangan dengan arus utama. Di Indonesia, Katolik pernah direpotkan dengan munculnya Gereja Setan, gerakan Mormon yang pernah dilarang di Indonesia. Pondok Nabi yang menggemparkan dengan penantian hari pengangkatan di Bandung pada 2004. Gejala penampakan bunda Maria yang direkayasa oleh Thomas dari Surabaya. Aliran sesat di Manggarai Tengah, dsb. Intinya, bahwa secara sosiologis-historis aliran sesat itu merupakan sikap dari kelompok minoritas yang menyimpang terhadap kebenaran dogmatis yang harus diimani oleh kelompok mayoritas

[sumber http://robbyabror.wordpress.com/

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 23:05 | 0 comments
12 September 2007
Demokrasi Tidak untuk Rakyat


Demokrasi sudah menjadi kata sakti. Di mana-mana, orang meneriakkan kata demokrasi sebagai sebuah acuan akan tatanan dan pola organisasi yang baik. Semua pihak terpikat dengan cita-cita demokrasi di mana kedaulatan rakyat menjadi suatu yang ditinggikan. Namun, kenyataan berkata lain. Demokrasi yang diperjuangkan selama ini bergulir tiada hasil, di mana rakyat tetap menjadi pihak yang mengalami ketidakadilan. Janji-janji manis demokrasi yang diteriakan pada masa Pemilu hanya berlalu bersama angin kosong saja. Demokrasi tanpa keadilan hanyalah khayalan indah tanpa menilik kenyataan. Pertanyaannya, ada apa dengan demokrasi atau paling tidak ada apa dengan proses demokratisasi di Negeri ini?

Eko Prasteyo dalam buku ini memaparkan mengapa demokrasi yang diterapkan di Negeri ini telah menyimpang dari cita-citanya, yakni kedaulatan rakyat. Sebaliknya, kenyataan mengatakan bahwa rakyat justru semakin mengalami keterpurukan, tidak berdaya, dan semakin termarginalkan. Buku ini seolah hadir sebagai bentuk protes dan ungkapan rasa kecewa karena perubahan politik yang berada di bawah bendera demokrasi telah gagal dalam memenuhi janjinya.


Pertama, janji keberpihakan pada rakyat kian susah dicapai. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan justru semakin terpinggirkan dengan kebijakan pemotongan subsidi, kenaikan BBM, hingga penggusuran pada perumahan rakyat miskin, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Dalam pengambilan kebijakan itu, rakyat semakin tidak dilibatkan. Kedua, menyangkut pranata hukum yang kian buruk kinerjanya. Tidak ada kepastian dan ketegasan hukum. Banyak pejabat tinggi yang menjadi tersangka koruptor tetapi bisa lepas dari jerat pengadilan. Pelanggaran HAM yang melibatkan militer makin kian susah diusut. Ketiga, menyangkut kredibilitas pihak swasta yang tidak terlalu mengagumkan. Sebagian kebijakan publik yang diserahkan ke sektor swasta berubah menjadi penguasaan oleh pasar. Keempat, menyangkut beberapa aktivis pro demokrasi yang mengkomersialkan program demokrasi.

Akibatnya, bukan kepentingan rakyat yang mau dibela melainkan keuntungan pribadi atau pun kelompok. Paparan soal demokrasi dalam buku ini cukup runtut dan mudah diikuti.
Buku ini memaparkan pula kajian tentang bagaimana demokrasi diterapkan di Negeri ini. Demokrasi hanya dijadikan kedok dan senjata kampiun untuk membuai rakyat. Banyak pihak yang memanfaatkan demokrasi hanya untuk mengeruk keuntungannya sendiri. Eko Prasetyo dengan tegas menyebutnya dengan kawanan para bandit. Ambil contoh, Pemilu menjadi ajang kawanan politisi mengumbar janji-janji demokrasi dengan sibuk mengunjungi dan berdialog dengan rakyat. Tapi, setelah pemilu usai dan kekuasaan dipegang, kunjungan dan dialog itu juga terhenti.

Jatuhnya demokrasi pada tangan para bandit disebabkan karena partisipasi rakyat sekadar janji belaka. Olle Torquist, pengamat politik, seperti tertulis dalam buku ini (hlm. 44) mengatakan, “...jikalau demokrasi yang terjadi hanya secara formal dalam artian tidak diiringi oleh partisipasi yang sungguh-sungguh dari rakyat maka hasil yang mungkin terlihat merupakan ‘demokrasi kaum penjahat.

Di depan kekuasaan para bandit itu, peran oposisi sebagai salah satu elemen alternatif kekuasaan demokrasi digambarkan loyo dalam buku ini. Banyak kalangan aktivis yang meneriakkan perlawanan, kemudian terjatuh dalam pelukan pihak donor. Bahkan, yang lebih menyakitkan lagi deretan para aktivis yang dulu menjadi pelopor melawan rezim lama, kini malah duduk dan menumpang dalam partai politik yang dikecam. Tidak hanya aktivis LSM, tapi juga gerakan mahasiswa dan kaum intelektual. Dari liak-liuk perjalanan demokrasi ini, Eko Prasetyo dalam bab IV menyimpulkan bahwa rakyat bukannya dilayani demokrasi, tetapi hanya menjadi pelayan demokrasi. Rakyat hanya menjadi barisan kata yang menjadi berarti ketika ada pesta demokrasi. Rakyat disingkirkan dan dimarginalkan. Partai-partai politik yang menjamur hanyalah siap mengeruk keuntungan daripada melakukan perubahan yang berguna untuk rakyat.

Dalam bab terakhirnya, buku ini memaparkan langkah-langkah dan strategi konkrit bagaimana merebut demokrasi dari tangan para bandit. Inilah yang menjadi nilai tambah buku ini. Maksudnya, buku ini tidak hanya piawai dalam membedah dan menganalisis persoalan, melainkan juga memberi solusi atau langkah alternatif untuk mengatasi persoalan itu.

Ada sepuluh langkah dan strategi. Pertama, lewat jalur pendidikan. Pendidikan merupakan jalan utama untuk memperkuat kesadaran tentang bagaimana implementasi demokrasi kerakyatan itu dibentuk. Kedua, membentuk organ gerakan yang mempunyai visi dan metode yang sesuai dengan syarat-syarat sosial dan kultural. Ketiga, memberdayakan peran advokasi dan pembelaan untuk masuk sekaligus memperebutkan aspek legalitas. Keempat, memberdayakan media terutama dalam memperkuat pencitraan sekaligus pengungkapan informasi akurat tentang nasib rakyat. Kelima, pentingnya mengembangkan jaringan antar kelompok etnis maupun agama. Keenam, sudah saatnya mengembangkan tradisi yang berbasis pada produksi. Ketujuh, mengadakan gerakan pelayanan publik yang kini tidak dilakukan negara. Kedelapan, perlu dikembangkannya tradisi kaderisasi yang berbasis pada masa rakyat riil. Kesembilan, pendokumentasian dan pendataan semua kegiatan dan peristiwa yang terjadi. Kesepuluh, melakukan penggalangan massa untuk aksi turun ke jalan sebagai langkah terakhir.

Secara keseluruhan buku ini cukup mengusik dan menarik. Mengusik karena mempertanyakan kembali jargon-jargon demokrasi yang mengusung kedaulatan rakyat tetapi pada kenyataannya justru rakyat semakin ditinggalkan. Menarik karena buku ini secara tidak langsung memaparkan sebuah hasil analisis sosial dan pengamatan yang jeli pada sejarah demokratisasi di Indonesia. Oleh karena itu, buku ini layak dibaca oleh siapa saja, termasuk para aktivis pejuang demokrasi, pemerintah, maupun rakyat jelata. Paling tidak, dengan membaca buku ini, kita bisa tahu demokrasi seperti apa dan demokrasi untuk siapa?

Musafir Muda

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 22:00 | 0 comments
Jejak yang Tercetak



Judul: Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaraan KeIndonesiaan
Judul Asli: The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesia
Penerjemah: Amarzan Loebis, Mien Joebhar
Pengarang: Ahmad Adam
Penerbit: Hasta Mitra
Cetakan: 2003
Tebal: 339 hlm.


Ahmat Adam yang lahir di Malaya pada 1941 itu menulis Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Indonesia. Dalam bukunya ini ada sekitar 225 surat kabar masuk dalam daftar penelitiannya.

Dimulai dari Bataviase Nouvelles. Pers pertama di Nusantara itu terdiri selembar kertas. Bataviase Nouvelles terbit pada 1744 dengan bahasa Belanda. Lembaran berita lelang ini bisa didapatkan tiap Senin. Tapi setahun kemudian, tak lagi dijumpai. VOC takut pamornya tersaingi.


Jejak-jejak tercetak yang dilacak Ahmat Adam menabalkan ide Ben Anderson tentang kapitalisme cetak. Sebuah pers adalah jalan. Ia memperlancar bahasa di Hindia Belanda. Bahasa, tanah air atau lebih tepat lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik itulah yang berdialektika menjadi bangsa. Imagined Communities, kata Ben Anderson.

Bahasa Pembeda Bangsa
Apa yang ditulis Ahmat Adam ialah embrio. Ia belum sampai pada janin: apa yang lantas disebut bangsa. Jauh sebelum jabang bayi Indonesia lahir. Embrio yang rentan terhadap pada sesuatu yang meruntuhkan. Segalanya masih mengira-irapada yang akan terjadi. (yang orang pikirkan di jaman itu, barangkali hampir serupa dengan yang kita pikirkan tentang masa depan Indonesia)

Bataviase Nouvelles yang terbit di Batavia dengan bahasa Belanda ternyata toh bukan yang menjadi pendanda bangsa di Nusantara. Meski koran ini ia yang mulai terbitan tercetak di Nusantara. Sampai jabang bayi Indonesia lahir, bukan bahasa Belanda yang menjadi pengantar. Melainkan bahasa Indonesia.

Model seperti Bataviasche Koloniale Courant di jaman Daendles ternyata bukan menjadi tipe pers-pers pribumi. Meski ide penerbitan surat kabar dari Gubernur Jendral, Daendles pada 1809 ini memberi sumbangan dalam sejarah pers di Hindia Belanda.

Daendles menggabungkan Perusahaan Cetak Kota dengan percetakan Benteng (swasta) menjadi Landsdrukkerij (Percetakan Negara). Penggabungan perusahaan cetak ini bukan tanpa makna. Dengan perusahaan cetak yang dimiliki negara, media semakin massif menyebar. Daendles menggunakan media ini untuk memberitahukan reformasi tata pemerintahan yang dipimpinnya ke seluruh Hindia Belanda.

Namun Bataviasche Koloniale Courant, koran yang dirintis Daendles, baru bisa terbit pada 1810. Kabar selanjutnya, Daendles harus angkat kaki dari Hindia Belanda pada 1811. Bataviasche Koloniale Courant berhenti terbit pada 2 Agustus 1811. Ide ini kandas karena “koisideinsi” sejarah: Prancis kalah melawan Inggris.

Meski dalam catat sejarah selanjutnya ada model pers corong kekuasaan seperti ini. Tapi itu pun jauh setelah Bataviasche Koloniale Courant berhenti terbit. Dan bukan bahasa Prancis-lah yang tertanam di Hindia Belanda.

Lantas?

Bromartani. Surat kabar ini terbit di Surakarta dengan bahasa Jawa. Terbit perdana pada 25 Januari 1855. Pemimpin CF Winter Sr. dan putranya, Gustaaf Winter. Dua orang bangsa Belanda yang katam berbahasa Jawa.

Bahasa yang dipergunakan pun tak tanggung; bahasa Jawa krama inggil. Sebagaimana diketahui dalam tingkatan bahasa Jawa, krama inggil menempati urutan pertama. Di bawahnya, bahasa Jawa krama dan ngoko (bahasa Jawa kasar).
Bagaimanapun, meski berbahasa Jawa, Bromartani mengawali terbitan yang melawan arus besar. Terbit di tengah-tengah surat kabar-surat kabar yang cenderung memakai bahasa Belanda.

Berturut-turut setelah Bromartani terbit, pembukaan jaringan telegram (1856), pos (1862), dan jalur kereta api (1867) dibuka di Hindia Belanda. Dalam kehidupan pers, teknologi menjadi jalan yang memudahkan perkembangan pers. Berita-berita kian cepat dan mudah tersampaikan.

Ternyata bukan bahasa Jawa yang pada ujungnya dipilih sebagai bahasa bangsa di Hindia Belanda. Bukan bahasa Jawa yang menjadi patokan. Meski status jawa menjadi pusat kolonial.

Orang Tiong Hoa dengan kekuatan modalnya berperan penting dalam pembentukan bangsa. Koran-koran yang cenderung komersiil ini-lah yang mendukung proses penyebaran bahasa melayu. Tentu saja dengan bahasa Melayu ala Tiong Hoa.

Jika ditilik dari segi kebangsaan, di sinilah tampak jasa baik kapitalisme. Tanpa modal, nyaris ide-ide tak tersampaikan. Tak mungkin disimak. Apapun bentuk modal itu (bukan saja uang) berjasa dalam penyebaran ide.

Bahkan Ahmat Adam berani mengatakan:
“Di Sumatera, pers hanya berkembang di beberapa kota atau kota besar di wilayah pemerintahan di Pantai Barat dan Aceh, serta di Pantai Timur Keresidenan Tapanuli dan Palembang. Pertumbuhan pers di daerah-daerah ini sangat bergantung pada denyut ekonomi kota untuk mendukung sirkulasi surat kabar dan berkala di kalangan pedagang dan penduduk setempat.” (hlm. 212)

Di tempat-tempat itulah bahasa Melayu berkembang. Tapi bahasa Melayu murni ternyata bukan yang menjadi “aspal” dalam konteks pembentukan bangsa di Hindia Belanda. Ia bukan perekat. Bukan juga yang menjadikan jalanan kebangsaan itu mudah dilewati.

Di sinilah nampak peranan Tirto Adhi Soerjo yang tak bisa diremehkan di Hindia Belanda. Ia pertama kali bangsawan Jawa yang mampu menerbitkan pers tanpa bayang-bayang kolonial. Medan Prijaji yang diterbitkannya pada 1907 ialah pemula. Sebab ia pribumi. Di situ ia menulis bahasa melayu. Bahasa Melayu yang pada periode selanjutnya--di Papua, Maluku, Sumbawa, Flores, Bali, sebagian besar Kalimantan, Sumatera, Jawa--bermetamorfosa menjadi bahasa Indonesia.

Dalam masa zaman yang bergerak bahasa menunjukan bangsa. Bahasa yang menjadi jeda antara kami dan mereka. Antara pribumi dan kolonial. Antara yang menghegemoni dan dihegemoni. Antara yang melawan dan dilawan. Yang kemudian disebut sebagian sebagai era peregerakan.

Terlebih bangsa dan penunjuk bangsa berupa bahasa itu terlihat pada bahasa yang sering digunakan Marco. Bahasa melayu yang terkadang melawan tata bahasa Melayu. Penuh adopsi dan campuran dari sana-sini. (lihat penggambaran Rudolf Mrazek dalm Engineer of Happy Land dan Ben Anderson dalam Imagined Communities terhadap gaya bahasa Marco)
Inilah awal sejarah pers di Nusantara. Jauh sebelum dunia mengenal blog. Ketika setiap orang bisa membuat medianya sendiri. Memberitahukan dirinya. Membuatnya dirinya unik, berbeda, di tengah arus masa globalisasi.

Uniknya di tengah dunia yang menggoblal, kita semakin individual, tetapi sekaligus universal. Tak ada batas ruang dan waktu di dalam blog, pada internet.

Beda dengan jaman itu, abad ke-18 sampai 19, mesin cetak jumlahnya terbatas. Hanya kalangan tertentu yang memilikinya. Para misionaris, pada mulanya yang memiliki mesin cetak. Selebaran yang dicetak itu untuk mendukung missionaris mereka.

Sekarang, mungkinkah di Indonesia kini jejak dalam dunia maya. Sesuatu yang ada meski kita tak bisa menyentuhnya. Akankah kita jadi legenda di tengah dunia yang serba maya? Sejarah belum berakhir.

Tapi Ahmad Adam menulis ketika Indonesia sudah ada. Disertasinya tentang sejarah pers ia selesaikan pada sekira 1983(?). Sebagaimana apa yang dilakukan para sejarawan lain. Sebuah kelemahan dalam metodologis sejarah yang tak mungkin bisa dihindari. Melihat masa lalu dari masa kini dengan bertumpuk-tumpuk ideologi, tatanan sosial, ekonomi, politik, dan budaya menjejali sejarawan.

Penelitian Ahmat Adam pun memberi keuntungan: ia tahu persis beda bahasa Melayu versi Malaysia dan versi Indonesia. Yang kelak tentu berguna bagi pembentukan bangsa. Barangkali, Ahmat Adam bisa mengetahui bangsanya, Malaysia, setelah membaca pers-pers yang pernah hidup di Hindia Belanda.

RESOURCE: http://bukukuno.blogspot.com/2007/05/jejak-yang-tercetak.html

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 21:56 | 0 comments
Mrazek, Teknologi, dan Metafora Nasionalisme



Judul: Engineers of Happy Land
Pengarang: Rudolf Mrazek
Penerbit: Yayasan Obor, Jakarta
Cetakan: I Juni 2006
Tebal: 442 hlm.

Rudolf Mrazek. Siapapun dia dan di manapun dia, ia tetap guru saya. Saya tak pernah melihat mukanya. Yang saya lihat beberapa buku karangannya; Sjahrir Politik dan Pengasingan, Tan Malaka, dan Engineers of Happy Land (EHL). Tiga buku itu membuat saya terhenyak. Bukan semata data yang dipaparkan, tapi juga cara penyajian dan tafsirnya. Saya banyak belajar dari dia bagaimana menyajikan sejarah supaya enak dibaca dan penting.Bukan semata sejarah-sejarahan yang kaku sekaligus jujur dengan catatan kaki.


EHL membuat saya terhenyak. Mrazek bukan semata sedang menulis sejarah tapi memetaforakan data sejarah. Metafornya berlipat-lipat. Teknologi bukan semata teknologi. Teknologi adalah metafor dari nasionalisme jaman Kartini hingga jaman Pramoedya meninggal.

Dengan satu buku EHL ia berbicara banyak hal. Inilah yang menyebabkan metefornya berlipat-lipat. Ia memang sedang menulis sejarah teknologi di Hindia Belanda. Tapi ia juga sedang menilisik nasionalisme Indonesia. Ia juga sedang bekerja untuk Cornel University dengan data-data yang dia dapatkan. Ia sedang menunjukan hanya Cornell yang bisa menulis sejarah Indonesia dengan baik dan tak kaku.

Yang belum saya ketahui, dan ini sungguh pribadi; penuh prasangka; dan oksidentalis, ia sedang meruntuhkan mitos nasionalisme Indonesia. Tapi saya coba bunuh prasangka buruk itu. Saya percaya ia tak seburuk itu. Ia barangkali hanya kagum. Sebagaimana Ben Anderson yang mengagumi Indonesia.

Negeri dengan beragam etnis, bahasa, agama, golongan, kepentingan ini masih bisa bersatu selama seabad. Hanya di Indonesia nasionalisme macam itu terjadi. Yugoslavia hancur berkeping-keping lebih dulu. Rusia pecah. Amerika terus belajar, untuk melanggengkan nasionalisme mereka dengan laboratoriumnya: Indonesia.

Di situlah letak kecanggihan berpikir sejarawan dari Republik Ceko ini. EHL adalah teks yang bisa tafsirkan berlipat-lipat dengan metafora yang berlipat-lipat pula. Tapi ketika saya membaca cara berpikir Mrazek, ia tak ubahnya sebuah teks. Sebagaimana metafora dan alur berpikirnya yang terdapat dalam bab-bab yang dipaparkan, akan saya tafsirkan sendiri sebatas teks yang ada. Inilah kemenangan sekaligus kekalahan ketika saya menjadi pembaca teks. Saya diberi kebebasan menfasir tapi tafsiran saya dibatasi teks yang tersedia:

Nasionalisme Itu…
Ketika jalan-jalan mulai lempang, halus, dan tak becek nasionalisme mengalir cepat, mudah dalam darah pribumi. Jalan memudahkan Kartini, Marco dan pribumi udik lain untuk mengetahui daerah-daerah di luar “tempurung” mereka.

Memilih Kartini dan Marco sebagai contoh sama saja memetaforkan sebuah golongan intelektual Indonesia. Keduanya adalah pribumi dari kelas yang berbeda. Kartini mendapatkan pencerahan dari Barat. Nasionalisme-nya dikonstruk Barat. Kedekatannya dengan Barat membuatnya terobsesi. Bahkan bayangan moi indie-nya terbentuk dari pendidikan ala Barat. Termasuk bagaimana ia memaknai teknologi sebagai sesuatu yang mennggembirakan.
tak banyak mendapatkan sentuhan Barat. Sekolahnya cuma sampai Ongko Loro. Nasionalismenya lebih terbentuk dari pendidikan guru-gurunya: Tirto, Suwardi Suryaningrat, dan Wahidin. Dalam hal teknologi Marco tak cuma memanfaatkan tapi juga sebagai media perlawanan.

Tapi bagi keduanya, jalan dan alat transportasi (teknologi) menjadi medium yang memungkin orang untuk memiliki bayangan terhadap Indonesia. Inilah, bagi saya, letak perbedaan Ben Anderson dan Mrazek. Jika Ben, mengatakan nasionalisme awal terbentuk atas kapitalisme cetak, maka Mrazek paparkan jalan juga menjadi pembentuk nasionalisme.

Nasionalisme itu semakin mengalir, mengalir, dan terus mengalir ketika alat-alat transportasi merambah tanah Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Kereta api menjadi transportasi penting dalam membentuk Indonesia.

Kereta api yang cepat, yang melaju seperti monster menurut Kartini, yang memuat banyak orang lebih mungkin mengalirkan darah nasionalisme Indonesia dibanding mobil atau kereta kuda. Mobil terlalu elitis. Kereta kuda terlalu lambat. Keduanya memuat tak lebih dari 5 orang.

Dari kereta api kelas-kelas sosial, perlawanan, dan penjajahan dibaca. Beragam cerita ada didalamnya. Pribumi yang tak mampu bayar peron, pencopet, hingga para kolonial yang sombong. Marco disuruh pindah ke kelas tiga sebab, ada penumpang Belanda yang menginginkan tiketnya.

Bahasa adalah jalan. Sama saja bahasalah yang dapat melapangkan nasionalisme Indonesia. Bahasa Melayu melintasi batas-batas bahasa-bahasa daerah. Bahasa inilah yang lebih nasional, daripada bahasa Jawa, atau bahasa-bahasa lain.

Tafsir Mrazek hampir serupa dengan apa yang dikemukakan Ben. Baik kapitalisme cetak maupun jalan dan teknologi tansportasi lain (kereta api) semuanya adalah medium untuk melancarkan proses nasionalisme Indonesia. Di sinilah dialektis antara gagasan Ben dan Mrazek. Mrazek tak membantah, ia hanya melengkapi gagasan seniornya.

Meskipun kemudian Mrazek berkelit lincah bahwa ia terkendala bahasa. Seperti pejalan di jalanan yang becek di kala hujan, perjalanan Mrazek terkendala bahasa Inggris-nya yang buruk. Lagi-lagi di sini nampak kecanggihan gaya berpikirnya yang ikut merayakan post modernisme, merayakan hal-hal yang dianggap remeh temeh.

Tahap lanjut nasionalisme Indonesia ialah menjujung tinggi nasionalisme itu dalam benak. Nasionalisme tahap kedua dimetaforakan Mrazek dengan menara-menara yang menjulang. Menara-menara yang tinggi. Menara-menara yang bisa yang terasa sombong. Bangunan-bangunan berdinding kokoh dengan pondasi-pondasi kuat. Bangunan yang dibangun dengan biaya-biaya mahal.

Arsitektur Belanda yang menekankan pada bangunan-bangunan tinggi seolah menunjukan kesombongan. Angkuh, congak, jumawa, dan terkesan tak mau ditandingi. Sebab di awal abad ke-20 hanya Belanda yang mampu membuat bangunan yang tinggi. Menara-menara itu itu adalah tamzil atas kesombongannya.

Ciri khas arsitektur ala Belanda itu sama saja dengan arsitektur nasionalisme Indonesia. Keangkuhan kolonial itulah yang menyebabkan bangunan nasionalisme Indonesia menajadi kokoh. Amarah yang terpendam dalam benak pribumi yang dianggap rendah menjadi pondasi keras bagi nasionalisme Indonesia.

Ciri khas arsitek Belanda yang suka membangun gedung-gedung yang tinggi dan kokoh sama saja dengan arsitek nasionalisme Indonesia: Soekarno. Ia gemar membuat nasionalisme tampak kokoh dan tinggi. Sosok Soekarno merepresentasikan dua hal sekaligus: arsitek bangunan dan nasionilsme Indonesia.

Marzek barangkali memberi petunjuk, jangan sombong dan angkuh di negeri koloni: sebab kesombongan akan melahirkan perlawanan. Maka dari itu berramah tamahlah dengan pribumi. Dekati mereka, peluk mereka, timang-timang mereka. Entah petunjuk itu ditujukan kepada siapa. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai sosok bukan saja karya sejarah dari Cornell University.

Nasionalisme ialah pencerah sebagaimana listrik yang membuat bolam-bolam menyala dan menerangi kegelapan Hindia Belanda. Listrik menjadi teknologi baru di jaman yang baru. Listrik membuat pribumi terpukau, takjub, dengan teknologi yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Bola-bola gas yang menyala itu masuk dalam pandangan mereka.

Sedangkan foto sebagaimana diyakini adalah dokumentasi yang memampatkan waktu dan ruang. Selembar foto benar-benar memadatkan realitas. Foto menjadi realitas baru, realitas yang padat yang hanya mencuplik dari hamparan realitas sesungguhnya. Di awal abad ke-20 fotografi menjadi teknologi baru. Lagi-lagi Kartini, tokoh penting di jaman itu, begitu takjub dan terobsesi.

Di sisi lain teknologi optik juga berkembang. Kaca mata dengan bingkai dan lensanya membantu orang melihat dengan jelas. Ketika jaman baru mengenal kacamata sebagai fungsi primer, belum sebagai asesoris, alat itu memperjelas realitas. Membantu mengindera mata yang berpandangan kabur.

Nasionalisme sama saja dengan listrik, foto, dan alat optik. Ia meneguhkan jalan terang bagi keberagaman Indonesia hanya bisa dipersatukan dengan nasionalisme. Sebagai foto, sebenarnya, nasionalisme memampatkan waktu dan ruang. Hindia Belanda yang luas termampatkan dalam sebuah kata: Indonesia. Sebagai kaca mata, nasionalisme menjadi cara pandang.

Nasionalisme itu melekat dalam diri manusia Indonesia. Sehingga ia tampak eksotik. Ia membuat percaya diri melangkah dalam sejarah. Sebagaimana Soekarno, pesolek Indonesia, yang percaya diri dengan nasionalismenya. Pakaian adalah martabat, nasionalisme pun demikian. Tanpanya bangsa menjadi tak bermartabat.

Di atas adalah nasionalisme yang saya tafsirkan dari EHL. Di akhir tulisan ini, saya sangat berterima kasih kepada intenet, blog, handphone sebab dengan itu memudahkan jalan saya. Dengan teknologi saya semakin individual di tengah dunia yang semakin mengglobal. Saya seperti seorang tuli yang mencoba mencerna dengan baik apa yang dikatakan lawan bicara saya: Barat. Saya kira manusia jaman ini tak jauh beda dengan Kartini dan Marco: mengagumi dan memanfaatkan teknologi atau bahkan sebaliknya menjadikannya sebagai media perlawanan.

RESOURCE: http://bukukuno.blogspot.com/2007/04/mrazek-teknologi-dan-metafora.html

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 21:53 | 0 comments
Siapa Dibalik Terbunuhnya Malaka

Di masa revolusi nasional, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Sebagian orang malah menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal. Tetapi mengapa ia tewas dibunuh oleh bangsanya sendiri? Siapa yang berada di balik pembunuhannya?

Tan Malaka Dibunuh! Sebuah kisah sejarah yang ironis. Ditulis dengan gaya sastra sejarah. Buku ini mengurai tentang sosok, kiprah pergerakan, serta kematian Tan Malaka yang tragis di pinggir sungai Brantas pada Februari 1949.

Buku ini merekam dengan detil krisis politik yang terjadi pada kurun waktu 1945-1949. Sebuah kurun waktu di mana sesama kelompok revolusioner di negeri ini terlibat konflik politik dan perebutan kekuasaan yang berakhir dengan kematian dan pembunuhan. Revolusi telah memakan anaknya sendiri.

Buku-buku tentang masa revolusi membanjir setelah Orde Baru tumbang. Termasuk tentang Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (1897-1949). Sebagian pengarang buku tentang masa revolusi justru berasal dari kalangan yang generasi tuanya ikut mengganyang anggota PKI dan ormas pendukungnya.Generasi muda berontak terhadap pencucian otak yang dilakukan Orba terutama tentang partai komunis, termasuk sang penulis, Yunior Hafidh Hery ini.

Pertanyaan siapa yang membuang nafas Tan Malaka pada 19 Februari 1949 itu dibiarkan terjawab sendiri oleh pembaca di lembar akhir. Namun di ujung tulisannya, penulis mengajak keturunan Gubernur Mayor Jenderal Sungkono dan Kolonel Surachman untuk meresponi kronik tentang Tan Malaka.

RESOURCE: http://www.resistbook.or.id/index.php?page=resensi&id=155&lang=id



Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 21:48 | 0 comments
Hostage



Judul : Hostage
Pengarang : Robert Crais, 2001
Penerjemah : Maria Lubis
Penerbit : Rajut Publishing, 2007
Tebal : 533 halaman; 13 x 20 cm

Sebuah kasus penyanderaan yang berakhir tragis menimbulkan trauma yang sangat mempengaruhi kehidupan Jeff Talley. Trauma itu diam-diam disimpannya, tak ada yang pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hanya saja, setelah kejadian itu, sikap Jeff Talley berubah. Ia pun akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai negosiator SWAT dan malah bekerja di sebuah wilayah pemukiman yang tenang di California.


Hingga suatu hari, seorang penjahat kelas teri yang baru dibebaskan dari penjara melakukan sebuah kekacauan. Dennis Roney, bersama adiknya Kevin, serta seorang temannya yang dipanggil Mars, seorang lelaki pendiam. Dennis mengusulkan untuk merampok sebuah toko kecil, namun ternyata berakhir dengan tertembaknya si pemilik toko. Mereka pun melarikan diri. Dalam pelarian itu, mereka akhirnya tak sengaja masuk ke sebuah rumah dan menyandera pemilik rumah, Mr Smith dan kedua anaknya.

Jeff Talley yang bertugas di wilayah itu, kini harus kembali menghadapi situasi yang sudah lama ditinggalkannya. Kemampuannya sebagai negosiator ternyata sangat berguna dalam keadaan gawat tersebut. Namun ternyata, situasi tak sesederhana yang disangka. Orang yang disandera, Mr Smith, ternyata terlibat dalam bisnis mafia. Dia adalah akuntan yang bertugas untuk membuat pembukuan dan mengatur agar pencucian uang yang dilakukan sang mafia terlihat bersih.

Sang mafia pun mengikuti peristiwa penyanderaan itu, lalu melakukan berbagai usaha untuk menghalangi polisi agar nantinya tidak melakukan penggeledahan di rumah Smith, karena pasti akan ditemukan berbagai bukti yang akan menyulitkan mereka. Talley akhirnya bukan hanya harus membebaskan keluarga Smith, namun juga dia harus memikirkan keselamatan anak dan istrinya yang dijadikan sandera oleh sang mafia.

Cerita thriller ini memang sebuah cerita yang lancar. Dari awal, kita sudah diperkenalkan dengan para karakter utama. Kita akan diajak mengikuti situasi yang terjadi dari berbagai sudut pandang para tokoh yang terlibat. Di bagian akhir, kita juga akan disajikan beberapa kejutan yang membuat cerita bertambah seru.

Bagian yang paling menarik bagiku sih waktu secara tak terduga, ternyata salah satu sandera yang masih sangat muda itu menunjukkan keberanian yang luar biasa.

(Hanya saja, sebenarnya ini bukan jenis cerita yang aku sukai. Ceritanya memang lancar mengalir, gampang diikuti, tapi setelah di bagian akhir, aku gak mendapatkan kesan spesial. Yah, seperti sudah aku sebutkan di atas, yang paling aku suka itu sih di bagian si anak itu, karena tadinya dia digambarkan sebagai anak yang bengal, ternyata diam-diam dia sangat cerdas dan menyayangi kakaknya.)

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 21:44 | 0 comments
Perang




Judul : Perang - Sebuah novel Sub Kultur
Penulis : Rama Wirawan
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : I, 2005
Tebal : 176 hal

Novel ini bukan novel perang, tak ada rentetan peluru yang ditembakkan untuk membabat habis musuh, tak ada pekik kemenangan dari pihak yang menang. Yang ada adalah rentetan ide dan isu-isu sosial yang dimuntahkan dalam novel ini.

Perang adalah Perang Hayat, nama seorang pemuda 22 tahun yang bekerja sebagai seorang desain grafis di sebuah perusahaan printing. Bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore adalah suatu rutinitas yang dijalaninya sejak tiga bulan yang lalu, namun Perang belum juga bisa menemukan keindahan dan kenyamanan dalam dunia kerjanya. Suasana kantor yang penuh tekanan dan ketidaknyamanan itu membuat dirinya seperti berada dalam penjara dan ia merasa ada sesuatu yang tercuri dari hidupnya.


Dalam novel ini tokoh Perang dideskripsikan sebagai seseorang yang hidup dalam kesendirian dengan buku-buku dan keremangan, ia selalu sinis melihat dunia terang benderang seperti mall-mall, gedung-gedung megah, restoran mewah, dll. Ia selalu melihat ketimpangan dari semua kemewahan itu, ia menyadari bahwa mall-mall itu dibangun di atas tanah bekas gusuran rumah penduduk, ketika ia melihat sebuah restoran mewah ia yakin bahwa hanya segelintir orang yang bisa menikmati makanan di restoran mewah tersebut. Karenanya kawan-kawannya tak melihat dan merasakan apa yang ada dalam benaknya, Perang merasa hidup dalam kesendirian dan keterasingan.

Setelah sekian lama terjebak dalam rutinitas kerja dan keterasingan, kehidupannya lambat laun mulai berubah ketika Perang berkenalan dengan Denny, seorang kurir dari kantor cabang tempat ia bekerja. Perkenalannya dengan Denny membawanya pada suatu komunitas subkultur yang akrab dengan zine, musik underground, gig, distro, D.I.Y, dll. Dan yang membuat Perang segera tertarik dengan komunitas ini adalah pemikiran kawan-kawan barunya yang terus berusaha mencari alternatif atas sistem yang telah mengurung dan terus menumpulkan hidup masyarakat. Perang diajaknya membahas isu budaya kontemporer seperti alienasi, neoliberalisme , resistensi, literasi dan banyak lagi isu-isu sosial lainnya. Melalui komunitas dan kawan-kawan barunya inilah Perang kini merasa tak terasing lagi, keingin tahuannya yang besar dan ketidakpuasannya akan ketimpangan sosial, sistem ekonomi, politik, budaya subkulur, dan lainnya mendapat pencerahan dari kawan-kawan barunya. Lambat laun ia menjadi seorang yang hidup dengan pandangan baru , segar, sadar atas pilihan dan resiko hidupnya.

Kehidupan Perang tambah semarak dengan pertemuannya dengan teman kuliahnya dulu – Mirah. Melalui Mirah, Perang mengenal cinta, bukan cinta romantis seperti dalam kisah-kisah novel romantis melainkan cinta yang dalam, cinta yang sanggup menguak tabir kehidupan dan mampu mengembalikan sisi kemanusiaaan yang telah tertampik oleh sibuknya dunia. Dan itulah yang terjadi dengan Perang, kisah cintanya dengan Mira tak membuat semangat dan pandangan baru yang ia peroleh dari kawan-kawan komunitasnya mengabur, kehidupan cintanya dengan Mira membuat ia memperoleh kekuatan baru karena ia dan Mira bersatu padu dengan cara mereka sendiri untuk mendobrak kemapanan sistem yang telah menumpulkan masyarakat disekelilingnya akan arti dari sebuah kehidupan

Novel ini sangat baik untuk diapresiasi oleh pembaca yang tak ingin hidupnya terjebak dalam kemapanan . Novel yang sarat dengan ide pemikiran-pemmikiran alternatif ini tersaji dengan baik, antara ide dan cara penyampaiannya tampil seimbang, walau novel ini sarat dengan dialog-dialog antar tokohnya mengenai isu-isu sosial yang menyangkut ekonomi dan budaya, dan tersaji nyaris tanpa klimaks yang berarti, novel ini tidaklah menjadi membosankan karena tersaji dengan kalimat-kalimat bertutur yang enak dibaca dan membuka wawasan baru bagi pembacanya. Seperti halnya tokoh Perang, melalui novel ini cara pandang pembaca pun akan terbuka dengan pandangan baru akan apa yang terjadi dalam berbagai kehidupan sosial yang berlaku pada saat ini.

Di tengah maraknya novel-novel lokal bertema kehidupan remaja/dewasa yang sarat dengan muatan kegalamouran dan keceriannya, hadirnya novel subkultur ini tentunya menawarkan alternatif bacaan baru yang sangat layak dibaca bila kita ingin lebih paham mengenai masalah-masalah sosial dan dunia subkultur dengan segala pernak-perniknya

@h_tanzil


Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Maestro at 21:35 | 0 comments